Ketika Jalanan Kota Menjadi Panggung Ketegangan: Refleksi Hijau atas Ruang Publik yang Terbelah

Konflik horizontal antara pengemudi ojek daring dan mahasiswa di perkotaan membuka luka lama tata kelola ruang publik. Bagaimana kita merajut kembali ruang kota yang adil, inklusif, dan berkelanjutan?

Ketika Jalanan Kota Menjadi Panggung Ketegangan: Refleksi Hijau atas Ruang Publik yang Terbelah

Membaca Ulang Ruang Kota: Antara Aspal, Harapan, dan Luka Sosial

Sebagai seorang yang setiap hari merenungkan keberlanjutan, saya selalu percaya bahwa kota yang sehat bukan hanya soal taman hijau atau udara bersih—tetapi juga soal bagaimana ruang publik diperlakukan sebagai rumah bersama. Sayangnya, realitas di banyak koridor perkotaan masih menunjukkan retak yang dalam. Gesekan fisik antara pengemudi ojek daring dan kelompok mahasiswa di kawasan perkotaan adalah cermin getir bahwa ruang publik kita belum sepenuhnya inklusif. Insiden ini bukan sekadar perselisihan jalanan biasa. Ia adalah panggilan untuk melihat lebih dalam: bagaimana dua kelompok rentan—yang sama-sama berjuang di bawah ketidakpastian struktural—justru berbenturan di jalur yang sama.

Dalam sebuah tulisan yang saya rujuk, Pelajaran Pahit dari Bentrok UNM yang Mengubah Wajah Kampus, diulas bagaimana insiden kekerasan di lingkungan kampus menjadi potret rapuhnya komunikasi sosial dan getasnya ruang publik ketika dua kepentingan bertemu di koridor yang sama. Dari kacamata keberlanjutan, ini adalah pengingat bahwa pembangunan kota tidak boleh hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus merawat kohesi sosial dan keadilan spasial.

Daftar Isi

Friksi Kepentingan di Jalur yang Sama

Konflik horizontal di kawasan perkotaan kerap meletup ketika dua kelompok dengan kepentingan mendesak saling berbenturan di ruas jalan arteri yang terbatas. Di satu sisi, mahasiswa menggunakan badan jalan sebagai ruang artikulasi politik. Aksi unjuk rasa memanfaatkan jalur untuk menarik perhatian publik dan menekan pembuat kebijakan. Pembatasan akses jalur diposisikan sebagai instrumen unjuk kekuatan simbolik di ruang terbuka. Ini adalah bagian dari demokrasi yang sah, namun sering kali mengabaikan hak mobilitas warga lain.

Di sisi lain, pengemudi ojek daring bekerja di bawah kendali algoritma yang menuntut ketepatan waktu tempuh, efisiensi rute, dan pemenuhan target harian. Terhambatnya akses jalan langsung memotong pendapatan riil serta berisiko mendatangkan penalti performa dari sistem aplikasi. Bagi mereka, jalan bukan sekadar aspal, melainkan sumber nafkah yang harus terus berputar. Ketika dua desakan ini bertemu tanpa mediasi seketika, gesekan kecil di garis depan unjuk rasa dengan cepat menyulut eskalasi fisik. Adu argumen saat melintasi barisan demonstrasi dapat segera berujung pada perusakan properti dan benturan massal antarkelompok.

Dari perspektif keberlanjutan, ini adalah tanda bahwa kita perlu merancang ulang ruang publik agar dapat menampung berbagai kepentingan tanpa saling menindas. Kota yang berkelanjutan adalah kota yang mampu mengelola perbedaan, bukan kota yang membiarkan perbedaan itu menjadi bara konflik.

Solidaritas Mekanis dan Kecepatan Mobilisasi Algoritmik

Ciri paling kentara dari dinamika pekerja sektor ekonomi gig adalah kecepatan konsolidasi massanya. Jaringan grup pesan instan yang sehari-hari berfungsi sebagai bantalan perlindungan mandiri untuk berbagi rute atau informasi darurat dapat berubah seketika menjadi kanal mobilisasi fisik. Penyebaran cuplikan video pendek tanpa konteks utuh di media sosial memantik apa yang disebut Émile Durkheim sebagai solidaritas mekanis: kerugian yang dialami satu anggota dipandang sebagai ancaman langsung terhadap martabat seluruh paguyuban. Ratusan pengemudi dapat bergerak mendatangi titik lokasi dalam waktu singkat, melampaui kemampuan negosiasi lapangan maupun pengendalian awal aparat setempat.

Fenomena ini mengingatkan kita bahwa teknologi yang seharusnya mempermudah hidup juga bisa mempercepat ledakan sosial jika tidak dibarengi dengan literasi digital dan mekanisme verifikasi yang mumpuni. Dalam konteks keberlanjutan sosial, kita perlu membangun ketahanan komunitas—bukan hanya ketahanan ekonomi—agar solidaritas tidak berubah menjadi amuk massa.

Refleksi: Menghindari Jebakan Konflik Antar-Warga

Tragedi dari bentrokan horizontal ini adalah hilangnya empati antara dua kelompok yang sebenarnya memikul beban ketidakpastian struktural yang serupa. Mahasiswa turun ke jalan menyuarakan keadilan kebijakan publik, sementara mitra ojol berjuang menjaga kepastian nafkah harian. Keduanya adalah korban dari sistem yang belum berpihak pada kesejahteraan bersama. Alih-alih saling menyalahkan, sudah saatnya kita merangkul kembali semangat gotong royong yang menjadi akar budaya kota-kota di Indonesia.

Pencegahan peristiwa serupa di masa depan menuntut langkah konkret yang selaras dengan prinsip keberlanjutan—yaitu memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan hak generasi mendatang, termasuk hak atas ruang publik yang aman dan setara.

  • Pengawalan Koridor Lalu Lintas: Pengendali aksi mahasiswa wajib memastikan adanya akses perlintasan bagi masyarakat pekerja agar demonstrasi tidak mengorbankan mobilitas warga rentan. Ini adalah bentuk keadilan ekologis dan sosial: ruang jalan bukan milik satu kelompok saja.
  • Verifikasi Internal Komunitas: Pimpinan komunitas ojek daring perlu membangun mekanisme penyaringan informasi internal guna meredam ajakan aksi balas dendam yang dipicu video viral sepihak. Literasi media dan penguatan grup komunitas menjadi kunci.
  • Mediasi Formal Multi-Pihak: Otoritas kampus bersama kepolisian setempat perlu membuka forum komunikasi berkala bersama serikat pekerja transportasi untuk menyelesaikan insiden lapangan secara musyawarah sebelum bereskalasi menjadi kericuhan luas. Dialog rutin adalah pupuk bagi kohesi sosial.
“Kota yang berkelanjutan adalah kota yang mampu merawat perbedaannya, bukan kota yang membiarkan perbedaan menjadi luka.”

Menuju Ruang Publik yang Hijau dan Berkeadilan

Sebagai advokat keberlanjutan, saya percaya bahwa solusi jangka panjang harus menyentuh akar masalah: tata kelola ruang publik yang partisipatif, infrastruktur yang ramah bagi semua pengguna jalan, dan budaya komunikasi yang sehat. Bayangkan jika setiap aksi unjuk rasa menyediakan jalur alternatif yang aman, atau jika setiap komunitas pengemudi memiliki dewan mediasi yang cepat tanggap. Itu bukan mimpi—itu bisa diwujudkan dengan kemauan politik dan kesadaran kolektif.

Kita juga perlu mendorong transportasi publik yang lebih baik, sehingga ketergantungan pada kendaraan pribadi dan ojek daring dapat berkurang, dan jalanan menjadi lebih lapang untuk semua. Dengan begitu, gesekan akibat perebutan ruang bisa diminimalisir, dan emisi karbon dari kendaraan bermotor pun ikut turun. Ini adalah win-win solution: sosial dan lingkungan.

Mari kita mulai dari langkah kecil: berdialog dengan tetangga, menghargai pekerja di jalan, dan menolak provokasi di media sosial. Setiap tindakan kecil kita adalah benih bagi kota yang lebih hijau, adil, dan damai. Sudah saatnya kita berhenti melihat jalan sebagai medan tempur, dan mulai melihatnya sebagai urat nadi kehidupan bersama yang harus dirawat dengan penuh cinta.

Masa depan kota ada di tangan kita. Mari rawat ruang publik, rawat satu sama lain, dan rawat bumi ini untuk generasi mendatang.

Referensi

Sumber / Referensi

Daftar Pustaka

Berikut adalah daftar referensi yang digunakan sebagai sumber informasi dan rujukan terverifikasi dalam penulisan artikel ini.

1
OFFICIAL

Infojakarta (2026). ketegangan yang berujung pada perusakan fasilitas kampus Universitas Negeri Makassar (UNM). Infojakarta.

https://infojakarta.blog/artikel/dari-aksi-damai-ke-ricuh-massal-pelajaran-pahit-dari-bentrok-unm-yang-mengubah-wajah-kampus

Catatan: Daftar pustaka disusun sesuai kaidah penulisan rujukan terverifikasi guna menjamin akurasi, transparansi, dan integritas data jurnalistik Promo Coche.